Pendidikan Anak Usia Dini


Image result for anak usia dini
Sumber :  blog Guesehat Gambar puniki menawi kasayubin hak cipta
Anak Usia Dini merupakan adalah sosok individu yang sedang menjalani proses perkembangan dengan pesat dan fundamental bagi kehidupan selanjutnya. Anak usia dini berada pada rentang usia 0-8 tahun. Pada masa ini mengalami perkembangan yang sangat cepat dalam sepanjang kehidupan manusia. 
Pendidikan usia dini dalam pengertian lain merupakan suatu upaya pembinaan yang dilakukan oleh seorang pendidik (guru) yang ditujukan kepada anak dari sejak lahir sampai usia 6 tahun yang dilakukan pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan saat memasuki pendidikan lebih lanjut.
Menurut UUD RI Nomor 20 tahun 2003 tentang system pendidikan nasional pasal 1 ayat 14 menyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pebimbinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk memantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki dunia pendidikan lebih lanjut (Depdiknas, 2003). 
Sementara itu, menurut UNESCO dengan persetujuan anggotanya membagi jenjang pendidikan menjadi 7 jenjang yang disebut International Standart Clasification of Education (ISDEC). Pada jenjang yang diterapkan UNESCO tersebut, yaitu anak usia dini 3-5 tahun. Dalam implementasinya dibeberapa Negara dikemukakan ada yang memulai pendidikan pra sekolah ini lebih awal, yaitu usia 2 tahun dan dibeberapa Negara lain mengakhirinya pada usia 6 tahun.
Tujuan program pendidikan anak usia dini yaitu untuk mengembangkan pengetahuan dan pengembangan orang tua dan guru serta pihak-pihak yang terkait dengan pendidikan dan perkembangan anak usia dini. Secara khusus tujuan yang ingin dicapai yaitu (1). Dapat mengidentifikasi perkembangan fisiologis anak usia dini dan mengaplikasikan hasil identifikasi tersebut dalam pengembangan fisiologis yang bersangkutan, (2). Dapat memahami perkembangan kreativitas anak usia dini, (3). Dapat memahami arti bermain bagi perkembangan anak usia dini.
Adapun tujuan diadakannya program pendidikan anak usia dini yaitu (a). Untuk membentuk anak Indonesia yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh da berkembang sesuai dengan tingkat perkembanganna sehingga memiliki kesiapan yag optimal didalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan dimasa dewasa, (b). Sebagai kerangka dasar (fondasi) bagi anak untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan serta pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya, (c). Untuk mengintervensi sejak dini dengan memberikan rangsangan edukasi sehingga dapat menumbuhkan potensi tersembunyi yag terdapat pada anak, (d). Mengembangkan potensi-potensi yang sudah tampak pada anak tersebut, (e). Agar dapat melakukan potensi dini terhadap kemungkinan terjadinya gangguan dalam pertumbuhan dan perkembangan potensi-potensi yang dimiliki anak usia dini, (f). Untuk menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar disekolah, (g). Memberikan pengsuhan dan pembimbingan yang memungkinkan anak usia dini untuk tumbuh dan berkembang sesuai usia dan potensinya. (h).Mengidentifikasi penyimpangan yang mungkin terjadi, sehingga jika terjadinya penyimpangan, dapat dilakukan intevensi dini.

PROGRAM KEAKSARAAN FUNGSIONAL


Image result for keaksaraan fungsional
        Pendidikan masyarakat akat merupakan salah satu pendidikan yang diperuntukan bagi seluruh lapisan masyarakat, tanpa melihat perbedaan latar belakang pendidikan, usia, suku, perekonomian, suku, agama, status sosial kondisi mental fisik seseorang. pendidikan masayarakat ditujukan pada mereka yang memiliki keinginan untuk belajar dan menambah wawasan serta mencari keterampilan baik itu soft skill maupun hard skill. ada banyak sekali program yang ada di pendidikan masyarakat, diantaranya yaitu program keaksaraan fungsional.

Sumber Photo : BandungNewsPhoto.com

keaksaran fungsional atau lebih dikenal dengan pemberantaan buta aksara yang dilaksanakan oleh praktisi pendidikan masyarakat merupakan salah satu perogram pendidikan masyarakat yang bertujuan untuk mengenalkan atau mendidik masyarakat cara membaca bagi mereka yang masih dianggap buta aksara. Keaksaraan fungsional merupakan suatu pendekatan atau cara untuk mengembangkan kemampuan seseorang dalam menguasai dan menggunakan keterampilan menulis, membaca, berhitung, mengamati, dan menganalisa yang berorientasi pada kehidupan sehari-hari serta memanfaatkan potensi yang ada di lingkungan sekitarnya (Buku Pedoman tutor KF, 1998:2).

Sejarah perkembangan keaksaraan fungsional

Mulai abad 19 hingga pada tahun 1980 dikembangkan Literacy Traditional yang meliputi kemampuan membaca, menulis, mengeja, mendengar dan berbicara. Pada saat itu pula, Amerika menambahkan berbagai kemampuan tersebut dengan kemampuan pemaknaan, fungsional dan kemampuan berhitung. Scotlandia juga menambahkan kembali kemampuannya dalam memecahkan masalah dan memperoleh informasi. Berdasarkan standar literacy dari masing-masing Negara tersebut, mereka memiliki tujuan dasar yang sama yaitu agar masyarakatnya mampu memperoleh dan memanfaatkan informasi yang ada, kemudian informasi yang sudah mereka miliki dapat dijadikan sebagai sumber ataupun bahan dalam mengungkapkan pendapat dan gagasan (ide). Sehingga, masyarakat dapat membuat keputusan dan memecahkan masalah, baik dalam keluarga, pekerjaan ataupun sebagai warga negara dan sebagai pembelajar sepanjang hayat.
Sampai pada tahun 1990, dibeberapa Negara maju seperti Jepang, Korea, Taiwan, Negara-negara Eropa dan Amerika sudah dikembangkan literacy komputer (teknologi), information literacy dan multimedia literacy. Perkembangan literacy tersebut sudah mulai melibatkan kemampuan masyarakatnya dalam konsep literacy berbasis digital ataupun tekonologi dan bukan sekedar baca tulis hitung saja. Berbeda dengan literacy di Indonesia pada tahun 90-an ini baru mulai dikembangkan Keaksaraan Fungsional (KF) yang didalamnya memfokuskan pada strategi diskusi, membaca, menulis, berhitung dan aksi untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapi warga belajar dalam kemampuan sehari-hari. Banyak masyarakat di Indonesia yang tidak mampu mengikuti kegiatan sekolah karena aksesibilitas pendidikan yang kurang baik. Kebiasaan orang tua yang giat dan selalu bekerja keras dalam memperoleh pendapatan memberikan dampak kepada anaknya. Di Indonesia dan tepatnya di wilayah-wilayah tertentu masih banyak orang tua yang memiliki pemahaman yang kurang dalam hal pendidikan. Tidak sedikit dari mereka yang memperkerjakan anaknya untuk membantu memperoleh pendapatan keluarga, menurutnya tanpa sekolah pun mereka mampu bertahan hidup. Pola pikir yang salah menutup jalan terhadap anaknya yang ingin memperoleh wawasan yang luas. Terdapat tiga kategori besar masyarakat Indonesia, yakni praliterasi, literasi dan posliterasi.
  • Masyarakat praliterasi yang hidup dalam tradisi lisan dan sulit mengakses media seperti buku, TV, internet dan lain-lain. Walaupun mereka dapat mengakses tetapi tidak bisa mencernanya dengan mudah.
  • Masyarakat literasi yang memiliki akses terhadap buku, tidak berarti tradisi baca-tulis dapat tumbuh dengan subur dikalangan ini.
  • Masyarakat posliterasi yang memiliki akses buku dan teknologi informasi dan audio visual.

Penguasaan literasi dalam segala aspek kehidupan memang menjadi tulang punggung kemajuan peradaban suatu bangsa. Tidak mungkin menjadi bangsa yang besar, apabila hanya mengandalkan budaya oral yang mewarnai pembelajaran di lembaga sekolah maupun perguruan tinggi.
Selanjutnya hingga abad 20, disaat Negara maju sudah ingin mencapai target literacy arts, literasi kesehatan, literasi politik ataupun literasi menuju sosio-ekonomi, maka Negara Indonesia sedang melakukan proses pemulihan kembali masyarakat yang buta huruf melalui program Keaksaraan Fungsional (KF) pada tahun 1995 yang dilakukan di 9 provinsi. Dapat diketahui bahwa pada tahun 2003-2004 jumlah masyarakat Indonesia yang menyandang buta aksara usia diatas 10 tahun sebanyak 15.533.571 jiwa, dimana sekitar 66,09% diantaranya kaum perempuan. Dari sejumlah penyandang aksara tersebut, ada 4.410.627 orang yang termasuk pada kelompok usia produktif yaitu usia antara 10-44 tahun

Tujuan Program Keaksaraan Fungsional
Adapun tujuan utama dari adanya program keaksaraan fungsional ini adalah untuk memberantas buta aksaraka di kalangan masyarakat umum terutama di daerah pelosok yang masih kurang dari segi pendidikannya. Dalam buku Pedoman Tutor Kelompok Belajar Keaksaraan Fungsional tujuan program keaksaraan fungsional adalah diharapkan peserta didik untuk :
  • Meningkatkan pengetahuan membaca, menulis dan berhitung serta keterampilan fungsional untuk meningkatkan taraf hidupnya,
  • Menggali potensi dan sumber-sumber kehidupan yang ada dilingkungan sekitar peserta didik, untuk memecahkan masalah keaksaraan.

Sedangkan dalam buku penyelenggaaraan Program Keaksaraan Fungsional (2005: 8-9) tujuan program Keaksaraan Fungsional adalah dalam rangka memenuhi amanat konstitusi agar semua warga negara buta aksara memiliki kemampuan dasar baca-tulis-hitung.

Manfaat Program Keaksaraan Fungsional
  • Membuka wawasan untuk mencari sumber-sumber kehdidupannyamelaksanakan kehidupan sehari-hari secara efektif dan efesien
  • Mengunjungi dan belajar pada lembaga yang diperlukan
  • Memecahkan masalah keaksaraan dalam kehidupan sehari-hari;
  • Mengenal, mempelajari pengetahuan, keterampilan, dan sikapa pembaharuan untuk meningkatkan mutu dan taraf hidupnya serta ikut berpartisipasi dalam pembangunan.


Pendidikan Luar Sekolah


Pendidikan Luar Sekolah merupakan salah satu jenis pendidikan yang tercantum dalam undang-undang sistem pendidikan nasional No 20 tahun 2003. Pendidikan ini dikenal sebagai pendidikan yang berperan sebagai penambah, pelengkap, pengganti pengetahuan dari pendidikan formal.
Pendidikan Luar Sekolah kadang terdengar asing di telinga mahasiswa saat ini, padahal pendidikan luar sekolah merupakan pendidikan tertua yang ada di indonesia. Pernyataan tersebut dapat dibuktikan dengan banyaknya teori yang di kemukakan oleh para pakar pendidikan, salah satunya yaitu Philips H.Coombs berpendapat bahwa pendidikan luar sekolah merupakan semua pendidikan yang terorganisasi, sistematis dan dilaksanakan sistem pendidikan formal, yang menghasilkan tipe-tipe belajar yang dikehendaki oleh kelompok orang dewasa maupun anak-anak. Selain itu juga ada teori teori lainnya seperti Rusel Kleis dalam bukunya Non Formal Education mengemukakan bahwa pendidikan luar sekolah adalah usaha pendidikan yang dilakukan secara sengaja dan sistematis. Biasanya pendidikan ini berbeda dengan  pendidikan tradisional terutama yang menyangkut waktu, materi, isi dan media. Pendidikan luar sekolah dilaksanakan dengan sukarela dan selektif sesuai dengan keinginan serta kebutuhan peserta didik yang ingin belajar dengan bersunguh-sunguh. Axinn mengemukakan bahwa pendidikan luar sekolah merupakan kegiatan yang ditandai dengan kesengajaan dari kedua belah pihak, yaitu pendidikan  yang disengaja mebelajarkan peserta didik, dan peserta didik yang sengaja untuk belajar.
Menurut Suzanna kindervatter mengemukakan definisi pendidikan luar sekolah sebagai suatu metode penerapan kebutuhan minat orang dewasa dan pemuda putus sekolah di negara berkembang, membantu dan memotivasi mereka untuk mendapatkan keterampilan guna menyesuaikan pola tingkah laku dan aktivitas yang akan meningkatkan produktivitas dan meningkatkan standar hidup. Suzanna Kindervatter mengusulkan pendidikan luar sekolah sebagai “Empowering Process”. Empowering proses adalah pendekatan yang bertujuan untuk memberikan pengertian dan kesadaran dan kesadaran kepada seseorang atau kelompok guna memahami dan mengontor kekuatan sosial ekonomi dan politik sehingga dapat memperbaiki kedudukannya dalam masyarakat.
Dari definisi para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan luar sekolah pada prinsipnya menuju pada suatu wawasan mengenai pendidikan luar sekolah yaitu setiap kesempatan dimana terdapat komunikasi yang teratur dan terarah di luar sekolah, guna membantu peserta didik dalam membantu peserta didik dalam mengaktualisasikan potensi diri dalam mengembangkan tingkat pengetahuan, penalaran, keterampilan sesuai dengan usia.hasil yang diperoleh dari pendidikan luar sekolah yaitu dapat bermanfaat bagi diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.
Pendidikan Luar Sekolah berperan sebagai pelengkap penambah dan pengganti. Pendidikan luar sekolah sebagai pelengkap artinya bahwa pendidikan luar sekolah berperan dalam melengkapi keterampilan dan pengalaman belajar yang tidak di dapat di pendidikan formal. Contohnya seperti lembaga kursus dan pelatihan menjahit, mengemudi, memasak (tata boga). Pendidikan luar sekolah juga berperan sebagai penambah artinya bahwa pendidikan luar sekolah berperan sebagai penambah pengetahuan bagi peserta didik yang sedang mengenyam pendidikan formal atau remaja putus sekolah yang tidak mendapatkan kesempatan untuk belajar dipendidikan formal, nah untuk mendapat keterampilan tersebut bisa diberikan pengetahuan tentang suatu keterampilan sehingga bisa mendapat pekerjaan yang layak dan sesuai keterampilannya. Contohnya seperti Les Privat, kursus, pemberdayaan. Selain itu, Pendidikan Luar Sekolah berperan sebagai pengganti, artinya pendidikan luar sekolah bisa menjadi pengganti pendidikan bagi mereka yang tidak mendapatkan kesempatan belajar di pendidikan formal. Contohnya seperti Kesetaraan Paket A,B, dan C.
Pendidikan Luar Sekolah memiliki beberapa program utama yaitu diantaranya, Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Kesetaraan, keaksaraan Fungsional, Kursus dan Pelatihan, Pendidikan Perempuan, Pendidikan Anak Jalanan, Taman Bacaan Masyarakat, Pusat kegiatan Belajar Masyarakat,  kepemudaan, Pendidikan kecakapan hidup dan masih banyak lagi.

Assalamualaikum Warahmatullahi wabarrakatuh.. 😇
Hai temen-teman Alhamdulillah kali ini saya membuat salah satu blog terbaru yang nantinya akan berisi seputar konten terkait Pendidikan Masyarakat. Nah bagi kalian yang ingin mengenal lebih jauh tentang ke PENMAS an boleh yaa mampir terus di blog ini. Insyaallah kontennya akan sangat menarik dan terkini.  Aamiiin
Oh iya sebelumnya saya mau memperkenalkan diri saya terlebih dahulu nama saya Kamilatul Munawaroh Mahasiswa Universitas Siliwangi angkatan 2017, saya berasal dari Garut.
Sekian ya temen temen jangan lupa terus mampir ke blog ini yaa ...
Wassalamu'alaikum sampai jumpa di artikel pertamaku yaa 🤗🤗